Prostituted Girl Children

Sex guest house 

Srey Bamrae Plov Pheit 

Ditemani bong Pov, seorang bodyguard, aku meluncur ke pusat kota Phnom Penh saat malam masih awal. Jam 8 malam. Kemarin dia bilang salah satu warung kopi Vietnam menawarkan satu pelacur anak yang baru direkrut dua minggu sebelumnya. Hanya tiga menit naik motor, kami sampai di satu kedai kopi berlantai dua di jalan 289.

Empat pria Vietnam sedang duduk di kursi yang disusun melingkar di teras, minum coca cola. Di bagian dalam bangunan, puluhan kursi berderet teratur menghadap tiga layar tv kabel menayangkan channel berbeda, salah satunya dapat digunakan untuk karaoke. Satu satu meja kecil disediakan untuk setiap tiga kursi. Kami duduk di bangku pojok, memudahkanku mengamati ruangan ini.  Seorang pelayan perempuan sekitar 16 tahun dengan t-shirt tanpa lengan dan celana ponggol ketat datang menanya pesanan. Tidak ada daftar menu. Ku pesan dua botol soft drink. Dua tamu sekitar 20an tahun yang baru saja masuk menyapa si pelayan sambil tertawa-tawa. Di ruangan ini hanya ada delapan orang tamu termasuk aku. Tempat ini terkesan bersih dan rapi. Tidak ada tissu berserakan di lantai seperti yang biasa terlihat hampir di setiap kedai kopi atau rumah makan yang ada di kota ini. Di bagian belakang terdapat satu kamar tidur. Seorang perempuan keluar dari kelambunya ketika lihat Bong Pov masuk. Mereka berbincang. Tiga anak laki-laki sedang main game di tiga set game station bersebelahan dengan kamar tidur. Di lantai atas bangunan ini terdapat dua kamar. Pintunya tertutup. Selain pelayan remaja dan dua perempuan usia 30an, aku tak melihat ada perempuan lain di tempat ini. “Cewek-ceweknya lagi pada dibooking ke luar,” kata bong Pov, kecewa. “Kita ke tempat lain saja,” lanjutnya sambil menghidupkan motor honda 70cc nya.

Kami melewati jalan Confederation de la Russie menuju Phsar Thmey, lalu membelok ke jalan 63. Di jalan ini terdapat banyak guest house, hotel, restoran, beer garden dan karaoke parlor. Semuanya menyediakan pekerja sex komersial. Sampai di persimpangan jalan 178, Pov memperlambat laju motor dan masuk ke gerbang satu bangunan dua lantai dengan tembok tinggi, persis di pojok jalan. Dua pria hanya mengamati sepintas ketika kami melewati pintu gerbang.

Sekitar 24 sepeda motor parkir di halaman depan dan lima mobil di halaman samping. Ruang lobby Ponleuo Chan guest house ini terlihat temaram. Di dekat pintu masuk, seorang perempuan gemuk sekitar 40an tahun duduk menghadap meja. Dia kelihatan sibuk mencatat. Di sebelahnya terdapat rak terbuka berisi kromah dan kain. Aku langsung duduk di salah satu bangku plastik yang dideretkan dua baris di sebelah kiri lobby. Belasan orang pria lainnya ada di situ. Di pojok kanan, berseberangan dengan deretan bangku ini dengan jarak sekitar tujuh meter, ada satu set sofa dan selusin bangku plastik. Sepuluh perempuan duduk di situ. Jumlah ini kemudian bertambah ketika beberapa perempuan dari ruang belakang lobby ikut bergabung. Ramai tapi tertib. Tak terdengar suara berisik baik dari para tamu maupun dari dari perempuan yang duduk di seberang. Sepertinya ada peraturan tidak tertulis untuk tidak ngobrol dengan suara keras, dan orang yang ada di tempat ini mematuhinya. Beberapa tamu keluar masuk dari pintu utama. Beberapa tamu dan perempuan lain keluar masuk dari lorong mengarah ke kamar-kamar yang berderet, diantarai lorong sempit di belakang ruang lobby. 

“Sir mau yang mana? Semua cantik kan?” aku agak kaget dengan pertanyaan bong Pov, yang tak pernah kuberitahu tujuanku ke tempat-tempat hiburan malam seperti ini.

“Aku mau minum dulu sebentar,” diam-diam aku ambil kamera dari pingganggku. Dia pesan dua kaleng minuman sementara aku set kamera tanpa flash. Kamera digital ini tak pernah tinggal setiap kali aku ke lapangan, bahkan meski hanya keluar rumah untuk makan. Selalu ada momen menarik untuk diabadikan. Bong Pov kelihatan agak gusar melihat aku mau ambil foto, dan beberapa kali disenggolnya kakiku mengingatkan supaya jangan. Tapi aku tak mau kehilangan kesempatan berharga. Kuletakkan kamera dipangkuanku dan diam-diam kuambil satu foto. Dari viewer kemudian kulihat hasilnya kurang bagus. Setelah melihat kesekeliling, aku ambil satu foto lagi, lumayan fokus. Aku kembali lihat kesekeliling, siap-siap untuk mendelete gambar yang baru kuambil jika ada yang kelihatan curiga lalu mendatangiku. Ternyata tak ada. Tamu kelihatan sibuk mengamati perempuan yang duduk di seberang atau yang lalu lalang. Untuk sementara aku merasa aman. Dengan tenang kusimpan kembali kamera itu ke tas kecil di tali pinggangku, terlindung t-shirt. Sambil minum, kuamati setiap perempuan keluar masuk ruang belakang dan yang duduk berhadapan denganku. Meski dengan jarak tujuh meter dan lampu bernuansa merah, wajah mereka masih kelihatan jelas. Rata-rata berparas lumayan dan berusia 18 sampai awal 20an tahun. “Aku mau yang nomor tiga dari kiri,” kataku kepada bong Pov dalam bahasa Khmer sambil menunjuk ke arah anak perempuan tersebut. Aku sengaja tak ingin komunikasi langsung dengan orang di tempat ini. Meski aku gunakan bahasa Khmer, mereka kemudian akan tau kalau aku orang asing. Tanpa komunikasi lisan, tak seorangpun bisa menduga bahwa aku bukan orang Khmer. Bong Pov melambai kearah remaja lelaki tanggung yang kelihatannya bertugas memanggilkan perempuan yang diinginkan tamu. “Srey Bopha, tamu!” katanya dengan suara agak keras, memastikan suaranya terdengar jelas. Anak perempuan itu perlahan bangkit dari duduknya. Malas-malasan. Matanya masih ke arah layar tv yang sedang menayangkan film drama Cina yang telah di dubbing ke bahasa Kamboja. Mungkin dia kurang suka namanya dipanggil. Sekali namanya dipanggil berarti satu sesi kekerasan lain harus ia jalani. Perlahan ia berjalan melintas di depan dua puluhan tamu yang masih duduk di dua deret bangku plastik sambil mengamat-amati perempuan yang mereka inginkan memberikan layanan sex.  Aku masih belum bergerak dari tempat dudukku. Kuperhatikan Srey Bopha berjalan ke meja dekat pintu masuk, menemui perempuan setengah baya yang kelihatannya bertugas sebagai administrator disitu. Setelah mengambil satu set kain yang tersusun rapi di rak persis di samping meja, Srey Bopha kembali melintas di depan para tamu menuju koridor letter T ruang belakang. Aku yakin dia tidak tahu lelaki mana yang memesannya. Dia juga kelihatan tidak mau peduli. Dia menghilang di koridor. Aku masih duduk menghabiskan coca-cola produksi Kamboja. Mungkin sadar tak ada lelaki yang mengikutinya dari belakang, sebentar kemudian Srey Bopha muncul lagi di depan koridor. Berdiri di situ. Aku bangkit dan menghampirinya. Kutawarkan senyum. Tak berbalas. Dia hanya diam, bahkan kelihatan cemberut. Dia berpaling, lalu melangkah menelusuri koridor. Di sisi kiri dan kanan koridor berderet kamar-kamar. Tak satupun pintu dari sepuluh kamar yang ada di koridor ini terbuka. Tempat ini kelihatan memang laris manis. Kuikuti dia membelok ke kiri, menelusuri koridor hingga kamar paling ujung. Satu satunya kamar yang masih kosong. Dia langsung duduk di pojok tempat tidur setelah menghidupkan kipas angin. Raut wajahnya murung. Kesal. Dia malah kelihatan hampir menangis. Aku duduk di sisi tempat tidur, memeriksa bawaan yang ia letakkan di kasur: kain sarung, kromah, sabun mandi mini, dan dua kondom merek Number One. Srey Bopha masih duduk meringkuk di pojok tempat tidur, jari tangannya menggulung-gulung ujung sprei. 

Ku cuci mukaku di kamar mandi kecil yang ada di kamar 3X3 meter itu. Debu di Phnom Penh memang menjengkelkan. Kecuali jalan-jalan utama, banyak ruas jalan di kota ini yang belum beraspal. Lima belas menit naik motor sudah cukup membuat mata perih dan muka berbedak debu. Terasa lebih fresh setelah aku membersihkan muka dengan tissu yang sengaja kubawa setiap keluar rumah. Aku memilih untuk tak menggunakan handuk yang biasanya disediakan di guesthouse (To be continued).  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.