Posted by: arianamari | November 22, 2007

ASI Eksklusif di Mata Ibu

Nur Afifah Hasbi

Menyusui anak merupakan bentuk lain dari cinta seorang ibu pada anaknya yang termasuk kebutuhan materi sekaligus psikologi anak. Disebut kebutuhan materi karena ASI merupakan material (sesuatu/benda berwujud) yang dikonsumsi bayi. Sementara, menyusui juga erat kaitannya dengan kebutuhan psikologi anak karena hubungan batin yang akan terjalin di antara keduanya. Keunggulan ASI terbukti tidak dapat digantikan oleh susu manapun. Namun tidak semua orang mempunyai anggapan dan pemahaman yang sama mengenai ASI eksklusif. Menyusui anak hingga usia 2 tahun meski dibarengi makanan tambahan lainnya dianggap telah memberi ASI eksklusif oleh sebagian masyarakat. Padahal yang dimaksud ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan pada bayi usia 0 sampai 6 bulan tanpa makanan tambahan apapun, seperti air gula, madu, pisang atau yang lainnya.  

23 Oktober 2007, 14.00 WIB, kami mengunjungi salah satu desa di Sibolangit. Bertempat di salah satu wisma kami mengikuti pelatihan penelitian kualitatif yang diadakan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA). Setelah menerima teori, kami diminta mempraktekkan ilmu yang kami dapat. Bersama dua teman, Taufik (sebagai note-taker) dan Rozy (sebagai observer) aku (sebagai interviewer) menyusun instrumen penelitian, interview guide 

Diturunkan di daerah yang asing, kami sempat bingung akan melakukan apa. Ditambah lagi pandangan sinis warga yang membuat kami tidak nyaman. Untuk mencairkan suasana, kami mendekati sebuah warung dan membeli minuman dan makanan ringan secukupnya sambil memperkenalkan diri pada bapak penjaga warung. Strategi mendadak itu ternyata cukup mencairkan suasana. Keramahan penduduk kemudian kami temukan dan wawancara mulai dilakukan. 

Ibu pertama yang kuwawancarai mengaku pernah memperoleh penyuluhan mengenai ASI Eksklusif dari bidan desa. Diketahuinya dari bidan desa bahwa ASI pertama yang kekuning-kuningan sangat baik bagi bayi. Namun ia tetap lebih mempercayai opini orang-orang tua di sekitarnya yang menyebutnya ASI basi dan memilih membuangnya. Ia bahkan menganggap tidak ada perbedaan antara anak yang diberi ASI dengan tidak. ”Sama aja kalo ga dikasih ASI. Sama aja perkembangannya. Bijaknya juga sama aja”. Selain ASI, ia juga memberi makanan tambahan karena tidak mampu mencukupi kebutuhan bayi. ”Ya, dikasih juga, karena dia kan kuat minum, jadi aku gak tahan, kurus, makanya dikasih makan yang lain juga biar dia gak kuat minumnya”. 

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, kami beranjak menuju tetangga depan rumah ibu tersebut yang juga menyusui. Menurutnya, ia menyusui kedua anaknya hingga usia 2 tahun. Demikian pula dengan anak ketiga yang sedang disusui direncanakan hingga usia 2 tahun. Ia mengaku tidak memberi makanan tambahan apapun hingga usia anak 6 bulan karena beranggapan ASI yang diberinya telah mencukupi kebutuhan anaknya. ”Kenapa ibu gak ngasi makanan tambahan?”, tanyaku. Dengan pasti ia menjawab, ”Karena dia merasa cukup, kalo gak cukup, kan dia nangis”. 

Ibu ketiga yang kami jumpai tidak menyusui bayinya, karena hasil adopsi. ”Anak itu bukan anak kandung saya, tapi anak adopsi. Waktu itu mau dibuang, jadi saya bilang jangan”, ungkapnya. Darinya kami ketahui bahwa anak itu adalah hasil hubungan di luar nikah seorang mahasiswi. Menurutnya, sejak lahir anak (adopsi)nya hanya diberi susu formula, lalu diberi pisang saat usia 4 bulan dan bubur pada usia 6 bulan. Diakuinya, susu formula tidak cukup memenuhi kebutuhan bayi, namun apa boleh buat, ia tidak bisa menyusui. Darinya pula kami dapati anggapan bahwa nasi yang diberi pada anak usia dua bulan dimaksudkan agar bayi menjadi kuat. 

Setelah mewawancarai tiga orang ibu, kami tidak lagi menemukan subjek lain. Dari obrolan yang kami lakukan dengan beberapa warga, diketahui bahwa sebagian penduduk bekerja di sawah pada pukul 9 hingga 12 siang kemudian dilanjutkan dari pukul 3 hingga 5 sore. Hal itu menyulitkan kami menemukan subjek untuk diwawancarai. Perubahan lokasi penelitian kemudian menjadi pilihan. Setelah menanyakan keberadaan desa di daerah yang lebih tinggi, kami pun berjalan mendaki. Cukup jauh jalan yang ditempuh sehingga kami sempat berfikir untuk kembali, namun keinginan mendapatkan data mengalahkan keinginan itu. Kami melanjutkan perjalanan. 

Sampai di desa Bengkarak, kami dapati cukup banyak pakaian bayi yang terjemur di sekitar perumahan. Kami memang menjadikan itu sebagai acuan mencari ibu menyusui. Seorang ibu tua yang kami jumpai tidak mau diwawancarai karena ia bukan ibu dari bayi yang digendongnya. Lelah merayu, kami meninggalkan ibu itu dan mendatangi rumah yang menurut ibu tadi pemiliknya juga sedang menyusui. Sesampainya, kami disambut bapak yang sedang mengasah parangnya. Sambil menghilangkan rasa takut, kami mengajaknya ngobrol sejenak dan memutuskan pergi. Istrinya sedang pergi ke sawah dan baru akan pulang setelah pukul lima. Lebih baik jalan dan mencari subjek lain.  

Sepasang nenek dan kakek terlihat sedang bercanda dengan cucu laki-laki mereka di teras rumah. Kami dekati dan menanyakan keberadaan ibu si bayi. Ternyata sedang bekerja di sawah. Tidak mungkin menunggunya pulang. Kuajukan pertanyaan pada si nenek. Sesekali suaminya ikut membantu menjawab. Dengan bahasa Karo yang kurang kupahami, kutangkap kekhawatirannya melihat temanku Taufik yang tidak berhenti menulis. Seolah tak ingin kehilangan satu kata pun. “Kami sedang pelatihan, Nek di wisma Bitra. Jadi ada tugas praktek meneliti. Ini cuma bukti aja kok”, jelasku menjawab kekhawatirannya. “O, jadi biar gak dipikirnya kelen jalan-jalan aja, ya”, tersipu ia menyahuti. Mengenai makanan tambahan, ia beranggapan bahwa kemiskinan lah yang menyebabkan mereka tidak memberinya pada bayi.

Setelah mewawancarainya, kami melanjutkan perjalanan. Di dalam sebuah warung kami melihat seorang ibu menggendong bayi. Keinginan mewawancarai tentu ada. Namun anjing yang berkeliaran di sekitar bahkan di dalam warung sempat menciutkan nyaliku. Takut menyesal, kami putuskan masuk dan mendekati ibu tersebut. Seekor anjing terus mendekatiku. Dengan ketakutan yang ditutup-tutupi kutahan untuk tidak berteriak apalagi berlari. “Gak papa, dia gak gigit kok”, ujar si ibu seraya menghalau anjingnya. Kupaksakan tersenyum ke arahnya dan duduk di kursi kayu sambil mencoba menenangkan diri.  Syukurlah, ia tak terlihat tersinggung sama sekali.  

Berdasarkan pengakuannya, ASi pertama yang kekuning-kuningan dibuang dan diganti susu formula. Sejak lahir udah dikasi, yang kuning-kuning dibuang dulu, yang kuning itu udah kotor, udah basi, bayi mudah kena penyakit, yang kuning itu sampai dua hari. Selama dua hari itu dikasi susu kaleng”, jelasnya panjang lebar.  Kutanya manfaat ASI, dengan ragu ia menjawab, ”Iyah, gak tau aku. ASI itu perlu dikasi untuk bayi, supaya anaknya kebal”.  

Di warung itu ternyata ada seorang ibu yang juga memiliki anak kecil yang masih diberi ASI. Dua subjek di satu tempat, Alhamdulillah. Setelah berbicang, diketahui bahwa ia membuang ASI pertama yang kekuning-kuningan karena terlalu sedikit dan tidak mencukupi. Setelah dua hari barulah ASInya lancar dan diberi pada bayi. Yang kuning itu sedikit, karna gak ada, dia jadi dibuang, gak cukup”. Mengenai makanan tambahan, dijelaskannya, ”Sampai 2 hari dikasih susu, sampai umur 4 bulan gak dikasi apa-apa, setelah umur 4 bulan dikasi bubur tim”. 

Pukul 17.30, enam orang subjek telah kami wawancarai. Padahal awalnya kami menargetkan mewawancarai lima orang subjek saja. Lebih dari cukup. Kami berbalik arah. Menuju wisma yang kami tempati. Jalanan yang belum tersentuh aspal di beberapa bagian, ditambah tanah yang basah akibat intensitas hujan yang cukup tinggi tidak lagi menjadi beban. Beberapa kali aku mengungkapkan ketidakpercayaanku pada 2 temanku. “Kok udah sampe sini, ya?”, ucapku setengah bertanya. Tapi aku tidak butuh jawaban. Yang penting tugasku selesai. Aku butuh istirahat. Hampir lupa, aku ternyata belum shalat.***

Nur’afifah Hasbi Nasution

Kontributor Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Simeulue


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.