Posted by: arianamari | December 1, 2007

First Impression On Phnom Penh

Center of Phnom Penh

20 February 2004

Light brown and green. That’s what I could see below when reaching the Land of Cambodia. Empty land and farms with scarce housings were things which were on the spot even when the plane was about reaching the international airport of Phnom Penh. I expected to see tall buildings, since Phnom Penh is the capital of the country, but they are not there.

Soon the plane landed. I followed other passengers leading to the immigration section, having on my hands documents needed for visa arrangement. Arranging visa at Phnom Penh airport was not so difficult as I thought it to be. They did not even see all my documents I had been preparing like the formal letter of invitation and sponsor letter. A completed form, a valid passport, a photograph and US $ 25 was all what was required to have a business passport. Only in about 15 minutes I already had a business visa on hand and rushed to pick up my luggage.

On getting out of the airport, I heard someone called out my name. He was Mr Yoseph, another ASF fellow who had been in Phnom Penh two months earlier for his research on black memory of Pol Pot regime, coming with another man, Mr Iwan, the director of Cambodia Fuelwood Saving Project, to pick me up from the airport. We were driving for about 15 minutes after which we arrived in a computer café where Mr Yoseph was staying.

Along the way to the house, which is around the center of Phnom Penh, few things were attracting me. Phnom Penh is far from being a metropolitan in terms of how the system is created and how facilities are provided. Taxis are really scarce, if we cannot say unavailable, and there is no a single bus on the spot along the way. Motor bikes and tricycles are the only means of public transportation in the city. Interestingly, the motor bike seats are extended as to carry more than one passenger. A motor bike with four persons on it is a normal thing to see. One US dollar is more than enough to take one with a motor bike within the city.

There seem to be no traffic rules in the city. Motor bikes with overloaded passengers are scattering, stopping wherever they want to. Driving licenses are not required but for car drivers. Traffic lights are scarce. Even a crowded crossroad in the center of the city may not have a traffic light. These may serve as one of the explanation why traffic accidents are high here. It is said that about ten persons die every day for accident in Phnom Penh.

Many beggars and tramps are seen in public places. Only for about 15 minutes sitting in a small restaurant for lunch, five beggars came to us each asking for a hundred riel (0,25 cent US). Some beggars are so insisting that they wouldn’t go away unless we give them some pennies. Street children are also there in the crossroads, markets, malls, public gardens and almost everywhere. Some glue-smelling street hildren are also on the spot in the pavements or corners of crossroads.

Before my arrival, my friend, Mr Yoseph, had told the owner of the house that I would be staying there. It’s a three storey shop-house located along one of the main roads. The first floor is an Internet café and telephone rental; the second and third floors are with rooms for rent, one of which is for the family of the house owner. I am now staying in a furnished 3×4 room where the family used to stay. They emptied the room in the morning the day I arrived and now moving to the living room of the second floor. I don’t understand why the owner of the house, who to me is a rich person, prefers to give their room to a tenant and stay in the living room which may reveal their privacy.

The owner of the house and his family are friendly. They greet and smile a lot. But they don’t speak English. Soon I realize how important it is to learn Khmer language. I often want to greet a local person and start a conversation, but it is really difficult to find some one who can speak English here. I am lucky to have Mr Yoseph who can speak a little Khmer and bridge my communication with the owner of the house, the motor dob drivers, shop owners, waitresses, etc.

I think I like staying in the room. Though it is a bit far from my host institution, the CWCC, I don’t think that would pose a big deal. I can easily call a motor dob, which is available at the crossroad in front of the house at any time, when I need to go out. Here I can easily get an access to the Internet and telephone, two things which are really important to me and are not obtainable in many places here in Phnom Penh. There are only a few Internet and telephone kiosks here. Unfortunately, public telephones are in nowhere. The only public telephone services are the ones offered by some owners of private mobile phones. If you see a glass box of about 0,5 to one meter with some telephone numbers on the glass window on the pavements, that is where you can get access to a telephone service. Or, you can also go to the Internet café and call via internet, a business which is considered illegal and begins to be banned here.

Posted by: arianamari | November 22, 2007

ASI Eksklusif di Mata Ibu

Nur Afifah Hasbi

Menyusui anak merupakan bentuk lain dari cinta seorang ibu pada anaknya yang termasuk kebutuhan materi sekaligus psikologi anak. Disebut kebutuhan materi karena ASI merupakan material (sesuatu/benda berwujud) yang dikonsumsi bayi. Sementara, menyusui juga erat kaitannya dengan kebutuhan psikologi anak karena hubungan batin yang akan terjalin di antara keduanya. Keunggulan ASI terbukti tidak dapat digantikan oleh susu manapun. Namun tidak semua orang mempunyai anggapan dan pemahaman yang sama mengenai ASI eksklusif. Menyusui anak hingga usia 2 tahun meski dibarengi makanan tambahan lainnya dianggap telah memberi ASI eksklusif oleh sebagian masyarakat. Padahal yang dimaksud ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan pada bayi usia 0 sampai 6 bulan tanpa makanan tambahan apapun, seperti air gula, madu, pisang atau yang lainnya.  

23 Oktober 2007, 14.00 WIB, kami mengunjungi salah satu desa di Sibolangit. Bertempat di salah satu wisma kami mengikuti pelatihan penelitian kualitatif yang diadakan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA). Setelah menerima teori, kami diminta mempraktekkan ilmu yang kami dapat. Bersama dua teman, Taufik (sebagai note-taker) dan Rozy (sebagai observer) aku (sebagai interviewer) menyusun instrumen penelitian, interview guide 

Diturunkan di daerah yang asing, kami sempat bingung akan melakukan apa. Ditambah lagi pandangan sinis warga yang membuat kami tidak nyaman. Untuk mencairkan suasana, kami mendekati sebuah warung dan membeli minuman dan makanan ringan secukupnya sambil memperkenalkan diri pada bapak penjaga warung. Strategi mendadak itu ternyata cukup mencairkan suasana. Keramahan penduduk kemudian kami temukan dan wawancara mulai dilakukan. 

Ibu pertama yang kuwawancarai mengaku pernah memperoleh penyuluhan mengenai ASI Eksklusif dari bidan desa. Diketahuinya dari bidan desa bahwa ASI pertama yang kekuning-kuningan sangat baik bagi bayi. Namun ia tetap lebih mempercayai opini orang-orang tua di sekitarnya yang menyebutnya ASI basi dan memilih membuangnya. Ia bahkan menganggap tidak ada perbedaan antara anak yang diberi ASI dengan tidak. ”Sama aja kalo ga dikasih ASI. Sama aja perkembangannya. Bijaknya juga sama aja”. Selain ASI, ia juga memberi makanan tambahan karena tidak mampu mencukupi kebutuhan bayi. ”Ya, dikasih juga, karena dia kan kuat minum, jadi aku gak tahan, kurus, makanya dikasih makan yang lain juga biar dia gak kuat minumnya”. 

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, kami beranjak menuju tetangga depan rumah ibu tersebut yang juga menyusui. Menurutnya, ia menyusui kedua anaknya hingga usia 2 tahun. Demikian pula dengan anak ketiga yang sedang disusui direncanakan hingga usia 2 tahun. Ia mengaku tidak memberi makanan tambahan apapun hingga usia anak 6 bulan karena beranggapan ASI yang diberinya telah mencukupi kebutuhan anaknya. ”Kenapa ibu gak ngasi makanan tambahan?”, tanyaku. Dengan pasti ia menjawab, ”Karena dia merasa cukup, kalo gak cukup, kan dia nangis”. 

Ibu ketiga yang kami jumpai tidak menyusui bayinya, karena hasil adopsi. ”Anak itu bukan anak kandung saya, tapi anak adopsi. Waktu itu mau dibuang, jadi saya bilang jangan”, ungkapnya. Darinya kami ketahui bahwa anak itu adalah hasil hubungan di luar nikah seorang mahasiswi. Menurutnya, sejak lahir anak (adopsi)nya hanya diberi susu formula, lalu diberi pisang saat usia 4 bulan dan bubur pada usia 6 bulan. Diakuinya, susu formula tidak cukup memenuhi kebutuhan bayi, namun apa boleh buat, ia tidak bisa menyusui. Darinya pula kami dapati anggapan bahwa nasi yang diberi pada anak usia dua bulan dimaksudkan agar bayi menjadi kuat. 

Setelah mewawancarai tiga orang ibu, kami tidak lagi menemukan subjek lain. Dari obrolan yang kami lakukan dengan beberapa warga, diketahui bahwa sebagian penduduk bekerja di sawah pada pukul 9 hingga 12 siang kemudian dilanjutkan dari pukul 3 hingga 5 sore. Hal itu menyulitkan kami menemukan subjek untuk diwawancarai. Perubahan lokasi penelitian kemudian menjadi pilihan. Setelah menanyakan keberadaan desa di daerah yang lebih tinggi, kami pun berjalan mendaki. Cukup jauh jalan yang ditempuh sehingga kami sempat berfikir untuk kembali, namun keinginan mendapatkan data mengalahkan keinginan itu. Kami melanjutkan perjalanan. 

Sampai di desa Bengkarak, kami dapati cukup banyak pakaian bayi yang terjemur di sekitar perumahan. Kami memang menjadikan itu sebagai acuan mencari ibu menyusui. Seorang ibu tua yang kami jumpai tidak mau diwawancarai karena ia bukan ibu dari bayi yang digendongnya. Lelah merayu, kami meninggalkan ibu itu dan mendatangi rumah yang menurut ibu tadi pemiliknya juga sedang menyusui. Sesampainya, kami disambut bapak yang sedang mengasah parangnya. Sambil menghilangkan rasa takut, kami mengajaknya ngobrol sejenak dan memutuskan pergi. Istrinya sedang pergi ke sawah dan baru akan pulang setelah pukul lima. Lebih baik jalan dan mencari subjek lain.  

Sepasang nenek dan kakek terlihat sedang bercanda dengan cucu laki-laki mereka di teras rumah. Kami dekati dan menanyakan keberadaan ibu si bayi. Ternyata sedang bekerja di sawah. Tidak mungkin menunggunya pulang. Kuajukan pertanyaan pada si nenek. Sesekali suaminya ikut membantu menjawab. Dengan bahasa Karo yang kurang kupahami, kutangkap kekhawatirannya melihat temanku Taufik yang tidak berhenti menulis. Seolah tak ingin kehilangan satu kata pun. “Kami sedang pelatihan, Nek di wisma Bitra. Jadi ada tugas praktek meneliti. Ini cuma bukti aja kok”, jelasku menjawab kekhawatirannya. “O, jadi biar gak dipikirnya kelen jalan-jalan aja, ya”, tersipu ia menyahuti. Mengenai makanan tambahan, ia beranggapan bahwa kemiskinan lah yang menyebabkan mereka tidak memberinya pada bayi.

Setelah mewawancarainya, kami melanjutkan perjalanan. Di dalam sebuah warung kami melihat seorang ibu menggendong bayi. Keinginan mewawancarai tentu ada. Namun anjing yang berkeliaran di sekitar bahkan di dalam warung sempat menciutkan nyaliku. Takut menyesal, kami putuskan masuk dan mendekati ibu tersebut. Seekor anjing terus mendekatiku. Dengan ketakutan yang ditutup-tutupi kutahan untuk tidak berteriak apalagi berlari. “Gak papa, dia gak gigit kok”, ujar si ibu seraya menghalau anjingnya. Kupaksakan tersenyum ke arahnya dan duduk di kursi kayu sambil mencoba menenangkan diri.  Syukurlah, ia tak terlihat tersinggung sama sekali.  

Berdasarkan pengakuannya, ASi pertama yang kekuning-kuningan dibuang dan diganti susu formula. Sejak lahir udah dikasi, yang kuning-kuning dibuang dulu, yang kuning itu udah kotor, udah basi, bayi mudah kena penyakit, yang kuning itu sampai dua hari. Selama dua hari itu dikasi susu kaleng”, jelasnya panjang lebar.  Kutanya manfaat ASI, dengan ragu ia menjawab, ”Iyah, gak tau aku. ASI itu perlu dikasi untuk bayi, supaya anaknya kebal”.  

Di warung itu ternyata ada seorang ibu yang juga memiliki anak kecil yang masih diberi ASI. Dua subjek di satu tempat, Alhamdulillah. Setelah berbicang, diketahui bahwa ia membuang ASI pertama yang kekuning-kuningan karena terlalu sedikit dan tidak mencukupi. Setelah dua hari barulah ASInya lancar dan diberi pada bayi. Yang kuning itu sedikit, karna gak ada, dia jadi dibuang, gak cukup”. Mengenai makanan tambahan, dijelaskannya, ”Sampai 2 hari dikasih susu, sampai umur 4 bulan gak dikasi apa-apa, setelah umur 4 bulan dikasi bubur tim”. 

Pukul 17.30, enam orang subjek telah kami wawancarai. Padahal awalnya kami menargetkan mewawancarai lima orang subjek saja. Lebih dari cukup. Kami berbalik arah. Menuju wisma yang kami tempati. Jalanan yang belum tersentuh aspal di beberapa bagian, ditambah tanah yang basah akibat intensitas hujan yang cukup tinggi tidak lagi menjadi beban. Beberapa kali aku mengungkapkan ketidakpercayaanku pada 2 temanku. “Kok udah sampe sini, ya?”, ucapku setengah bertanya. Tapi aku tidak butuh jawaban. Yang penting tugasku selesai. Aku butuh istirahat. Hampir lupa, aku ternyata belum shalat.***

Nur’afifah Hasbi Nasution

Kontributor Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Simeulue

Posted by: arianamari | November 7, 2007

Rumah Tendaku

Tsunami mendamparkanku hingga ke rumah tenda. Rumah baruku. Disini hampir semuanya serba baru. Tenda yang kutempati masih baru. Tenda ini masih kosong waktu pertama kali aku, ibu, ayah dan satu abangku yang masih hidup diantar naik truk ke tempat ini. Kami tak membawa apa-apa kecuali pakaian yang melekat di badan. Itu pun warnanya sudah menjadi kumal karena air tsunami yang hitam, dan sobek disana sini karena tersangkut di sampah waktu ayah menyeretku berlari ke Mesjid. Disitu tanahnya lebih tinggi.  

Sekarang kami sudah punya barang-barang di tenda. Ada pakaian-pakaian bekas, bahan makanan, alat dapur (2 kompor minyak, piring dan gelas plastik, beberapa sendok), 1 tilam tipis, 2 selimut, 1 radio kecil. Semuanya dikasi gratis. Kemaren anak-anak dipanggil ke tenda besar di depan, lalu abang-abang dan kakak-kakak yang pakai rompi itu kasi kami masing-masing satu tas. Didalamnya ada seragam sekolah lengkap dengan buku, pinsil, rol, sepatu, kaos kaki, dll. Kalau ada yang datang naik mobil ke kampung tenda kami, biasanya ada saja yang dibagi-bagikan. Makanya aku senang kalau lihat ada tamu datang. Tadi pagi ada truk kecil datang bawa jeruk. Begitu truknya berhenti, aku langsung mendekat supaya dapat bagian. Teman-temanku juga. Tapi ternyata jeruk itu bukan untuk dibagi gratis. Aku menggerutu. Kecewa. 

Kupikir semuanya senantiasa gratis setelah tsunami. Maklumlah seminggu ini kami dapat layanan serba gratis. Aku jadi terbiasa. Sekolah gratis. Berobat gratis. Abang-abang dan kakak-kakak yang pakai rompi itu pasti anak orang kaya makanya bisa punya barang sebanyak itu untuk dibagi-bagikan. Lagipula, mana mungkin kami bisa kalau disuruh bayar. Dari mana uangnya. Ayahku tak bisa lagi melaut karena sampan dan jaringnya sudah hilang entah kemana ditelan tsunami. Di tempat ini ayahku tak mungkin bisa dapat kerja. Dia hanya tahu cari ikan ke laut. Di pegunungan begini mana mungkin ada laut. 

Mungkin karena itu ayahku sering murung. Entah juga mungkin karena sampai sekarang dia belum temukan satu adikku yang hilang waktu tsunami. Dia sudah capek cari ke tenda-tenda lain. Tapi tak ada kabar sama sekali. Aku kasihan liat dia harus jalan kaki kemana-mana. Ayahku tak sendirian. Beberapa tetangga tenda kami juga masih terus mencari anaknya yang hilang, berharap Tuhan menyelamatkannya dari tsunami. Tadi aku juga lihat beberapa orang datang ke tenda besar di depan menanyakan anaknya yang hilang. Mereka bawa foto. Kakak yang pakai rompi itu memotret foto tersebut dan menempelkannya di dinding. Banyak foto anak-anak terpajang disitu. Andai kami punya foto adikku yang hilang dan punya handphone, mungkin dia cepat ditemukan. Tapi sampai ia hilang, adikku memang belum pernah difoto. Kakak yang pakai rompi itu bilang foto-foto itu akan dikirim kemana-mana. Lalu orang yang menemukan anak hilang itu akan menelfon nomor yang di tulis dibawah foto itu. Andaipun adikku ditemukan masih hidup, takkan ada yang tahu harus bagaimana mencari kami. Ayahku bilang tak lama lagi mungkin kami akan dipindahkan lagi ke tempat lain. Mungkin rumah tenda baru lagi. 

Ayahku semakin murung. Aku tak pernah lihat dia senyum lagi sejak seminggu lalu. Dia jarang bicara. Mudah marah. Tak pernah lagi dia cerita dongeng sebelum aku tidur. Akupun tak berani bermanja seperti dulu. Aku lebih suka main-main dengan kakak-kakak pakai rompi di tenda besar di lapangan depan sana. Mereka sering mengumpulkan anak-anak. Kami dikasi mainan dan jajanan. Setiap sore kami nyanyi ramai-ramai. Nyanyian bahasa Indonesia. Aku tak tahu apa artinya. Cuma ada dua kakak-kakak itu yang bisa bahasa Aceh. Aku tak perduli. Aku lebih senang main di luar rumah tendaku. Aku rindu waktu kami semua masih tinggal di rumah yang bukan tenda.***

Posted by: arianamari | November 6, 2007

My Curriculum Vitae

PERSONAL ACCOUNT

Name : Rustam Pakpahan, M.A
Place & Date of Birth : Kp. Toba/ 20 September, 1968
Sex : Male
Home Address : Jl. Pasar 3 No 93/162Medan 20237, Sumatera Utara

Indonesia
Phone: (+62 61) 669 1200
Mobile: (+62) 812 64 500 34
Email: utam_p@yahoo.com 
Office Address : Pusat Penelitian IAIN Sumatera Utara/ Research Center of State Institute for Islamic Studies of North SumateraJl. IAIN No. 1 Medan 20235IndonesiaPhone: (+62 61) 4536090Email: puslit_iain@yahoo.com Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) – Center for Child Study and Protection

Jl. Abdul Hakim Pasar 1 No 5A MedanIndonesia

Phone: (+62 61) 8201113

Fax: (+62 61) 8213009

Email: pkpamdn@indosat.net.id

FORMAL EDUCATION

Year Degree earned Area of discipline Institution
1996 to 1998  Master of Art Religious Studies (Islamic Education) Leiden University, the Netherlands
1987 to 1992  Doctorandus Education State Institute for Islamic Studies of North Sumatera

 NON-FORMAL EDUCATION/TRAINING

No Title Place Period
1 HIV/ AIDs and Gender Medan 2006
2 Community Development Berastagi 2006
3 Counseling Traumatized Children Medan 2005
4 Summer Institute Training on Child Abuse Quezon City, the Philippines 2005
5 Cambodian Course Phnom Penh, Cambodia 2004
6 Research Training   Medan  1999
7 Research Training   Jakarta  1999
8 Research Training   Jakarta  1998
9 English Course   Leiden, the Netherlands  1996-1998
10 Dutch Course   Leiden, the Netherlands  1996-1997

WORKING EXPERIENCES

Period Position Institution
2005 – Now Program Manager (Aceh and Nias) Center for Child Study and Protection (PKPA Medan)
2000 – Now Researcher Center for Woman Studies of the State Institute for Islamic Studies, North Sumatera
1999 – Now Researcher Center for Child Study and Protection (PKPA Medan)
2000 – Now Editor Jermal Watch
1999 – Now Editor Kalingga: for the Rights of Children and Women
1998 – Now Researcher Research Center of the State Institute for Islamic Studies, North Sumatera
1995 – Now Lecturer (Gov’t Officer) State Institute for Islamic Studies, North Sumatera

  LIST OF PUBLICATIONS ·           Books/ Articles/ Monographs 

No Title Type of Publication Publisher/ Year
1 Srey Karaoke Online article http://www.ceritanet.com, 2006
2 Night Life in Phnom Penh Online article http://www.antropologi.fib.ugm.ac.id, 2006
3 Sekilas Tentang Kehidupan di Kamboja Online article http://www.endonesa.net, 2006
4 Menggagas Model Penanganan Perdagangan Anak: Kasus Sumatera Utara (Initiating A Model of Managing Trafficking in Children: Cases in North Sumatera) Book The University of Gadjah Mada Press, 2004
5 Jermal Reviewed Book Armen Publishing House, 2003
6 Domestic Violence against Working Wives in Medan, North Sumatera Article Journal of Social Studies, McGill, 2002; and International Social Work, Vol. 49, No. 1, 41-50 (2006) available online at http://isw.sagepub.com/cgi/content/abstract/49/1/41
7 Kekerasan terhadap Isteri dalam Rumah Tangga (Violence against Wives in Domestic Sectors) Book LKIS, 2002
8 Melindungi Anak di Internet: Petunjuk ECPAT (Trans. from Protecting Children Online: An Ecpat Guide) Book Armen Publishing House, 2002
9 Menggagas Tempat Aman bagi Perempuan (Initiating Safe Places for Women) Book The University of Gadjah Mada Press, 2001
10 Religious Education of Muslim Children in Great Britain Article Journal of Analytica Islamica, 1999
11 The Teaching of Christianity to Muslim Children in British State Schools Article Journal of Tarbiyah, 1998
12 Islamic Religious Education in the Netherlands: An Empirical Study on the Family Religious Education of Muslim Children in the Hague Article Journal of Research, Religion and Culture, 1998
13 A Study on the Problems Faced by Muslim Parents Concerning the Religious Education of Their Children in British State Schools Thesis Unpublished Thesis

  ·        Research 

No
Title
Donor Year
1
Rapid Assessment Keterlibatan Anak dalam Bisnis Ganja di Aceh
ILO IPEC Ongoing
2
Rapid Assessment Anak Korban Konflik Bersenjata di Aceh
ILO IPEC 2007
3
Fenomena Anak Jalanan di Banda Aceh Pasca Tsunami 2004
ILO IPEC 2006
4
Rapid Assesment: Child Labor in Nias
ILO IPEC 2006
5
Akses Anak Perempuan Desa ke Dunia Pendidikan (Access of Village Girl Children to Education)
Dept. of Religious Affairs 2005
6
Managing Child Victims of Trafficking for Prostitution in Cambodia
Asian Scholarship Foundation 2004
7 Child Labor in Traditional Fishing Traps (Jermals) on the East Coasts of North Sumatera Bread for the World 2003
8 Pembagian Kerja pada Keluarga Nelayan Percut Sei Tuan: Analisis Perspective Gender (Job Distribution in the Families of Fishermen in Percut Sei Tuan: A Gender Perspective Analysis) Dept. of Religious Affairs 2002
9 Penggunaan Guli-guli pada Alat Kelamin Tahanan Anak di Medan (The Use of Penis Piercing on Genitals of Child Prisoners in Medan) PPK UGM 2002
10 Violence Against Women: A Study on Institutions and their Actions in Addressing the Issue PPK UGM 2001
11 Kebijakan Penanggulangan Perdagangan Anak Untuk Kepentingan Pelacuran di Sumatera Utara (An Analisis on Policies Concerning Commercial Sexual Exploitation of Children in North Sumatera) PPK UGM 2001
12 Peran IAIN Sumatera Utara dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan (The Role of IAIN North Sumatera in the Application of Local Autonomy in Education) Dept. of Religious Affairs 2000-2001
13 Pengelolaan Keserasian Sosial Antar Umat Beragama Di Kotamadya Medan: Riset Partisipatoris Untuk Perumusan Kebijakan (Management of Social Harmony Among Religious Communities in Medan) Dept. of Religious Affairs 2000
14

Domestic Violence against Women (A Study on Domestic Violence against Wives Working in Academic Sectors in Medan)

CIDA 2000
15 Sikap Keberagamaan Masyarakat Nelayan Sumatera Utara (Religious Attitudes of Fishermen in North Sumatera) Dept. of Religious Affairs 2000
16 Baseline Survey on Children Working in Fishing Traps (Jermal) Bread for the World 2000
Posted by: arianamari | November 6, 2007

Starting to Lead the Life As A Karaoke Girl

Srey Vie (16 years old)

I am the oldest in my family. I have four siblings. My parents are very poor, very very poor. They are now in Kampong Cham. My father goes to the river fishing, but sometimes he comes home bringing nothing. Sometimes he is lucky and catches more fish. But this is seldom the case, for there is not much fish in the river anymore. My mother and one of my sister go finding woods from the bushes and sell them in the market, only to get one dollar per day. Many people in my village are like this. Many children don’t go to school. They cannot read. I am lucky I have finished a primary school and I can read.

Once my friend came home from Siem Reap. She wore nice clothes and brought some money for her parents. My mother said, “Why don’t you go to work in Siem Reap like your friend?” I asked my friend what she was doing in Siem Reap and she said she accompanied guests singing in karaoke rooms. “You can come with me if you want. You are pretty. I think Bong Pheap (the manager) will accept you. She has just added two more karaoke rooms. She needs more girls,” she looked sure with what she said. I invited another friend to go with me, srey Nie (20). She is not pretty and cannot read. She never goes to school. We arrived here five days ago. Bong Pheap also accepted srey Nie to work here.

We sleep in those two shaggy rooms. Five girls in one room. There aren’t enough mosquito nets for us, but I seldom feel the mosquitos biting me, perhaps because I always drink much beer before sleeping. Bong Pheap provides us with some rice. We take turn preparing meals for lunch and dinner.

I don’t like working like this. My friends can stand drinking much beer. I cannot. But guests always ask me to drink with them. Whenever I drink, I get headache and I want to sleep. Bong Pheap is angry if I take rest or go to bed early. Some guests are really nasty. They want to touch and kiss me. I can dance and don’t mind dancing with them. But I don’t like being kissed. Once, a guest even asked me to sleep with him. He said he would give me US$ 100. It’s a lot of money. But I did not want. I never do like that.

Last night with two other girls I accompanied three guests, as old as my father. They stayed long hours. I drank so much beer and blacked out on the sofa in the room. I lied down on the sofa. I felt the room kept turning round. I knew when a guest turned off the light. Another even turned off the television monitor and locked the door. It was dark then. I wanted to get up and turn on the light again, but I couldn’t. Then I felt the guest touching my body. I wanted to drop his hand, but I was too weak. I didn’t know when the guests left the room. When I woke up this morning, I was still in the room. Fortunately the guest didn’t do more to me. My friend told me the guests left at two in the morning.

Bong Savourn (the operator) is very kind to me. He wants me to be his girl friend. He also says he will marry me someday and will not let me work like this anymore. But now he doesn’t have enough money yet. I have saved four dollars from the tips the guests gave me, and Bong Pheap says she will give me US$ 30 after one month.***

Posted by: arianamari | November 5, 2007

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.